Selasa, 02 Februari 2010

TUBERKULOSIS KUTIS


I. DEFINISI

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosis. Tuberkulosis kutis, seperti tuberkulosis paru, biasanya terjadi terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia dan merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis, dan terkadang vaksin Bavillus Calmette-Guerin 7,10

II. EPIDEMIOLOGI

Faktor predisposisi terjadinya tuberkulosis kutis diantaranya adalah kemiskinan, gizi kurang, penggunaan obat-obatan secara intravena, dan status imunodefisiensi1,2. Penelitian di Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo, skrofuloderma merupakan bentuk yang tersering terdapat (84%), disusul oleh tuberkulosis kutis verukosa (13%), bentuk-bentuk yang lain jarang ditemukan. Lupus vulgaris yang dahulu dikatakan tidak terdapat, ternyata ditemukan, meskipun jarang 1.

1. Penularan

Tuberkulosis kutis dapat ditularkan melalui inhalasi, ingesti, dan inokulasi langsung pada kulit dari sumber infeksi. Selain manusia, sumber infeksi kuman tuberkuloasis adalah anjing, kera, atau kucing.10

2. Distribusi

Dengan semakin efektifnya pengobatan tuberkulosis sistemik, tuberkuloasis kulit semakin jarang dijumpai. Insidensinya secara pasti tidak diketahui, tetapi data dari beberapa rumah sakit memperkirakan angka antara 1-4%. Di negara-negara Barat, frekuensi terbanyak adalah lupus vulgaris, sedangkan di daerah tropik termasuk Indonesia skrofulderma dan tuberkulosis kutis verukosa merupakan yang paling sering ditemukan. Penyakit ini tidak memandang umur akan tetapi terbanyak terjadi antara dekade 1-2.

III. ETIOLOGI

Penyebab tuberkulosis kutis adalah mikobakterium obligat yang bersifat patogen terhadap manusia: M. tuberkulosis, M. bovis, dan kadang-kadang bisa juga disebabkan oleh Bacillus Calmette-Guerin (BCG) 5. Penyebab utama tuberkulosis kutis di Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM) ialah Mycobacterium tuberkulosis (jenis human) berjumlah 91,5%, sisanya (8,5%) disebabkan oleh M. atipikal, yang terdiri atas golongan II atau skotokromogen, yakni M. scrofulocaeum (80%) dan golongan IV atau rapid growers (20%). M. bovis dan M. avium belum pernah ditemukan, demikian pula M. atipikal golongan lain 1.

IV. BAKTERIOLOGI

Mikobakterium tuberkulosis mempunyai sifat-sifat yaitu berbentuk batang, tidak membentuk spora, aerob, tahan asam (1,2), panjang 2-4/µ dan lebar 0,3-1,5/µ, tidak bergerak dan suhu optimal pertumbuhan pada 37ºC 1. Pemeriksaan bakteriologik terdiri atas 5 macam1 :

1. Sediaan mikroskopik

Bahan berupa pus, jaringan kulit dan jaringan kelenjar getah bening. Pada pewarnaan dengan Ziehl Neelsen, atau modifikasinya, jika positif kuman tampak berwarna merah pada dasar yang biru. Kalau positif belum berarti kuman tersebut M. tuberkulosis, oleh karena ada kuman lain yang tahan asam, misalnya M. leprae.

2. Kultur

Kultur dilakukan pada media Lowenstein-Jensen, pengeraman pada suhu 37º. Jika positif koloni tumbuh dalam waktu 8 minggu. Kalau hasil kultur positif, berarti pasti kuman tuberkulosis

3. Binatang percobaan

Dipakai marmot, percobaan tersebut memerlukan waktu 2 bulan

4. Tesbiokimia

Ada beberapa macam, misalnya tes niasin dipakai untuk membedakan jenis human dengan yang lain. Jika tes niasin positif berarti jenis human.

5. Percobaan resistensi

V. KLASIFIKASI

Klasifikasi tuberkulosis kutis bermacam-macam. Berikut ini klasifikasi menurut PILLSBURRY dengan sedikit perubahan 1.

Tabel 1. Klasifikasi Tuberkolusis Kutis

I. Tuberkulosis sejati

Pimer : 1. Tuberkolusis chancre

2. Tuberkulosis miliar

Sekunder : 3. Lupus vulgaris

4. Tuberkolusis kutis verukosa

5. Skrofulderma

6. Tuberkulosis kutis orifisialis

II. Tuberkulid

Papular : 1. Tuberkulid papulonekrotik

2. Likhen skrofulosorum

Nodular : 3. Eritema induratum (penyakit Bazin)

VI. PATOGENESIS

Bila terjadi infeksi M. tuberculosis, kuman masuk jaringan dan mengadakan multi-plikasi intraseluler. Selanjutnya akan tim­bul reaksi jaringan dengan datangnya lekosit dan sel-sel mononuklear dan akhirnya terbentuk granuloma epiteloid disertai dengan nekrosis kaseasi di tengahnya.

Adanya infeksi M. tuberculosis belum tentu menimbulkan gejala klinik. Bebera­pa faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik adalah: sifat kuman, respons imun tubuh dan cara masuk kuman. Per-bedaan spesies, virulensi. dan jumlah kuman yang masuk akan mempengaruhi gambaran klinik dari tuberkulosis kulit.

Sebagaimana infeksi pada lepra, res­pons imunitas penderita yang berperan pada infeksi M. tuberculosis adalah res­pons imunitas seluler, sedangkan peran antibodi tidak jelas atau tidak memberi-kan imunitas. Imunitas seluler yang baik akan membatasi fokus primer, dan infeksi terhenti tanpa gejala klinik. Jika kurang baik, infeksi akan berkembang menjadi suatu spektrum klinik dan histopatologik (seperti pada lepra) yang dibatasi oleh dua kutub penyakit, yaitu kutub reaktif dan kutub anergik, Jika imunitas penderita baik, multiplikasi kumar. akan terhenti tanpa menimbulkan gejala klinik, atau timbul penyakit klinik yang merupakan kutub reaktif yang ditandai dengan ba-nyaknya sel limfosit-T, granuloma epite­loid dengan nekrosis perkejuan di tengah-nya dan sedikit organisme. Sedangkan jika imunitas jelek akan timbul kutub anergik, ditandai dengan banyaknya orga­nisme, sel makrofag dan sedikit limfosit.

Cara masuknya kuman juga mempe­ngaruhi gejala klinik atau jenis TB kulit. Jika kuman masuk secara eksogen, akan timbul tuberkulosis chancre, tuberkulosis verukosa kutis atau lupus vulgaris. Perluasan kuman secara endogen dapat menyebabkan skrofuloderrna atau tuber­kulosis kutis orifisialis (perluasan lang­sung), lupus vulgaris (secara limfogen) atau tuberkulosis miliaris akut (secara hematogen).

VII. MANIFESTASI KLINIS

Inokulasi tuberkulosis primer (tuberkulosis chancre)

Kompleks lesi primer meliputi kulit dan nodus limfatikus terutama pada bayi dan anak-anak. Jalan masuk basil tuberkel adalah paru-paru 6, luka kecil, kuku yang terbuka, atau luka tusuk 4. Afek primer dapat berbentuk papul, pustul atau ulkus indolen, berdinding tergaung dan disekitarnya livid. Masa tunas 2-3 minggu, limfangitis dan limfadenitis timbul beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah afek primer, pada waktu tersebut reaksi tuberkulin menjadi positif. Keseluruhannya merupakan kompleks primer. Pada ulkus tersebut dapat terjadi indurasi, karena itu disebut tuberculous chancre. Makin muda usia penderita makin berat gejalanya. Bagian yang sering terkena adalah wajah dan ekstremitas yang berhubungan dengan limphadenopaty regional 6. Biasanya ditemukan pada daerah kulit yang mudah terkena trauma 2,4.

Tuberkulosis kutis miliaris

Tipe ini biasanya terjadi pada bayi dan anak-anak 6 dengan status imunokompromise 2. Fokus infeksi terdapat secara khusus pada paru-paru atau selaput otak 2. Terjadi karena penjalaran ke kulit dari fokus di badan. Reaksi terhadap tuberkulin biasanya negatif (anergi). Ruam berupa eritema berbatas tegas, papul, vesikel, pustul, skuama atau purpura yang menyeluruh. Pada umumnya prognosisnya buruk 1,5

Skrofuloderma
Tuberkulosis kutis murni sekunder yang terjadi secara pekontinuitatum dari jaringan di bawahnya, misalnya kelenjar getah bening, otot dan tulang 3. Skrofuloderma terjadi terutama pada anak-anak 2 dan dewasa muda pada bagian kulit yang berada diatas nodus limfatikus dan daerah yang kelihatan tulangnya 6. Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Dimulai dengan infeksi sebuah kelenjar yang selanjutnya menjadi berkembang menjadi periadenitis. Beberapa kelenjar kemudian dapat meradang, sehingga membentuk suatu kantong kelenjar “klier packet”. Pada stadium selanjutnya terjadi perkejuan dan perlunakan, mencari jalan keluar dengan menembus kulit diatasnya, dengan demikian terbentuk fistel. Fistel tersebut kian melebar, membentuk ulkus yang mempunyai sifat-sifat khas 3.

Tuberkulosis kutis verukosa

Tipe ini terjadi terutama pada orang dewasa, anak-anak dan individu yang resisten terhadap terjadinya inokulasi eksternal basil tuberkel 3,6. Infeksi terjadi secara eksogen, jadi kuman masuk ke dalam kulit, oleh sebab itu tempat predileksinya pada tungkai bawah dan kaki, tempat yang lebih sering mendapat trauma 1,3,4. Gambaran klinis biasanya berbentuk bulan sabit akibat penjalaran secara serpiginosa, yang berarti penyakit menjalar ke satu jurusan diikuti penyembuhan di jurusan yang lain. Ruam terdiri atas papul-papul lentikuler di atas kulit yang eritematosa. Pada bagian yang cekung terdapat sikatriks 1,3.


Tuberkulosis kutis gumosa

Tuberkulosis ini terjadi akibat penjalaran secara hematogen, biasanya dari paru. Kelainan kulit berupa infiltrat subkutan, berbatas tegas yang menahun, kemudian melunak dan bersifat destruktif 1. Pada awalnya kulit berwarna normal dan lama-kelamaan menjadi merah kebiruan 5. Lesi tersebar berbentu makula dan papul berukuran kecil atau lesi berwarna kemerahan. Kadang-kadang vesikuler danterdapat krusta 5.

Tuberkulosis kutis orifisialis

Pada umumnya terjadi pada pasien dengan penyakit tuberkulosa pada organ-organ dalam 2. Sesuai dengan namanya maka lokasinya di sekitar orifisium. Pada tuberkulosis paru dapat terjadi ulkus di mulut, bibir atau di sekitarnya. Pada tuberkulosis saluran cerna, ulkus dapat ditemukan di sekitar anus. Pada tuberkulosis saluran kemih, ulkus dapat ditemukan di sekitar orifisium uretra eksternum. Ulkus berdinding tergaung, kemerahan, hemoragik, purulen dan sekitarnya livid 1,5

Lupus vulgaris

Lupus vulgaris merupakan bentuk yang sering dan mengenai terutama pada bagian yang sering terpapar misalnya pada wajah dan ekstremitas 6. Cara infeksi dapat secara endogen atau eksogen. Gambaran klinis yang umum adalah kelompok nodus eritematosa yang berubah warna menjadi kuning pada penekanan (apple jelly colour) 1,4,5. Nodus-nodus tersebut berkonfluensi berbentuk plak, bersifat destruktif, sering terjadi ulkus. Pada waktu terjadi involusi terbentuk sikatriks. Bila mengenai muka tulang rawan hidung dapat mengalami kerusakan 1,5. Penyembuhan spontan terjadi perlahan-lahan di suatu tempat, tetapi terjadi perjalanan di tempat lain, yang dapat ke perifer atau serpiginosa 1.

Lupus milliaris diseminatus fasiel

Mengenai muka, timbulnya secara bergelombang. Ruam berupa papul-papul bulat, biasanya diameternya tidak melebihi 5 mm, eritematosa kemudian meninggalkan sikatriks. Pada diaskopi memberi gambaran apple jelly colour seperti pada lupus vulgaris 1.

Tuberkulosis papulonekrotika

Lesi tipe ini terutama terjadi pada anak-anak dan dewasa yang menderita TB pada bagian tubuh lain. Keadaan ini terjadi karena adanya reaksi alergi terhadap basil tuberkel. Basil menyebar secara hematogen pada orang dengan satus imunitas sedang atau baik, akan tetapi fokus tuberkulosis secara klinis tidak aktif pada saat terjadinya erupsi, dan pasien sedang berada dalam keadaan sehat 6. Selain berbentuk papulonekrotika juga dapat berbentuk papulopustul. Tempat predileksi pada muka, anggota badan bagian ekstensor, dan badan 1,4. Mula-mula terdapat papul eritematosa yang timbul secara bergelombang, membesar perlahan-lahan dan kemudian menjadi pustul, lalu memecah menjadi krusta dan membentuk jaringan nekrotik dalam waktu 8 minggu, lalu menyembuh dan meninggalkan sikatriks., kemudian timbul lesi-lesi baru. Lama penyakit dapat bertahun-tahun 1.

Liken skrofulosorum

Lesi biasanya terjadi di daerah leher pada anak yang menderita tuberkulosis tulang atau nodus limfatikus 1,6. Kelainan kulit terdiri atas beberapa papul miliar, warna dapat serupa dengan kulit atau eritematosa. Mula-mula tersusun tersendiri, kemudian berkelompok tersusun sirsinar, kadang-kadang di sekitarnya terdapat skuama halus. Tempat predileksi pada dada, perut, punggung dan daerah sacrum. Perjalanan penyakitnya dapat berbulan-bulan dan residif, jika sembuh tidak meninggalkan sikatriks 1.

Eritema nodusum

Kelainan kulit berupa nodus-nodus indolen terutama pada ekstremitas bagian ekstensor. Diatasnya terdapat eritema. Banyak penyakit yang juga dapat memberi gambaran klinis sebagai Eritema Nodusum., yang sering: lepra sebagai eritema nodusum leprosum, reaksi yang terjadi karena Streptococcus B Hemolyticus, alergi obat secara sistemik, dan demam reumatik 1.


Eritema induratum

Eritema induratum adalah suatu peradangan kronis dari pembuluh darah arteri dan vena bersifat jinak, dan disertai nekrosis lemak 4,6. Kelainan kulit berupa nodus-nodus indolen. Tempat predileksinya pada daerah fleksor. Terjadi supurasi sehingga terbentuk ulkus-ulkus. Kadang-kadang tidak mengalami supurasi, tetapi regresi sehingga terjadi hipotrofi berupa lekukan-lekukan. Perjalanan penyakit kronik residif 1.

VIII. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis tuberkulosis kutis didasarkan atas anamnesis riwayat TB, pemeriksaan bakteriologik (untuk menentukan etiologinya), pemeriksaan histopatologik (untuk menegakkan diagnosis), dan tes tuberkulin. Ada juga yang menyebutkan bahwa Reaksi berantai polimerase (polymerase chain reaction) dapat dipakai untuk menentukan etiologi. Tetapi kerugiannya tidak dapat mendeteksi kuman hidup, jadi kultur masih tetap merupakan baku emas7,12

Tabel 2. Diagnosis banding tuberkulosis kutis

Tuberkulosis chancre

Sindrom Chancriform yaitu syphilis primer dengan disertai chancre, penyakit cat-scratch, sporotrichosis, tularemia, infeksi M. marinum 5.

Tuberkulosis kutis verukosa

Kromomikosis, nevus verukosa, dan frambusis stadium II, veruka vulgaris, infeksi M. marinum, pyoderma, chromomycosis, bromoderma, lichen planus hipertrofik, dermatosis aktinik hipertropik 3,5.

Lupus Vulgaris

Sarkoidosis, lymphocytoma,lymphoma, lupus eritematosus kutaneus kronik, syphilis tersier, leprosy, blastomycosis, leismaniasis lupoid dan pioderma 5.

Scrofuloderma

Aktinomikosis, hidradenitis supurativa, limfopatia venereum, infeksi jamur 3,5.

Tuberkulosis kutis gumosa

Pannikulitis, infeksi jamur infasive, hidradenitis, syphilis tersier.

Tuberkulosis kutis orifisialis

Ulkus aphthous, histoplasmosis, syphilis.

IX. PENGOBATAN

Pada pengobatan TB kutis, khemoterapi merupakan pengobatan pilihan, Pengo­batan tuberkulosis kutis tefdiri atas kom-binasi: INH, rifampisin, ethambutol atau streptomisin. Lama pengobatan paling sedikit 9 bulan. Ada 3 altcrnatif regimen pengobatan jangka pendek, yaitu:

1. INH plus rifampisin setiap hari selama 6 bulan, ditambah ethambutol dan pyrazinamid setiap hari pada 2 bulan pertama.

2. INH plus rifampisin setiap hari selama 6 bulan, ditambah strepromisin dan pyrazinamid setiap hari dalam 2 bulan pertama

3. INH plus rifampisin setiap hari selama 9 bulan ditambah ethambutol setiap hari dalam 2 bulan pertama.


Tabel 3.
Obat antituberkulosis yang ada di Indonesia1

Nama obat

Dosis

Cara pemberian

Efek samping utama

INH

5-10 mg/kg BB per os dosis tunggal

oral

neuritis perifer

Rifampisin

10 mg/kg BB per os dosis tunggal

oral

waktu lambung kosong gangguan hepar

Pirazinamid

20-35 mg/kg BB per os dosis terbagi

oral

gangguan hepar

Etambutol

bulan I/II 25 mg/kg BB per os, berikutnya
15 mg/kg BB dosis tunggal

oral

gangguan Nervous II

Streptomisin

25 mg/kg BB per inj

injeksi

gangguan Nervous VIII

X. PROGNOSIS

Pada umumnya selama pengobatan memenuhi syarat seperti yang telah disebutkan, prognosisnya baik.

Selasa, 04 Agustus 2009

Glasgow Coma Scale (GCS)

GCS

The Glasgow Coma Scale (GCS) atau kadang-kadang juga dikenal sebagai Glasgow Coma Skor adalah neurological skala yang bertujuan menilai kesadaran seseorang. GCS menaksir tingkat kerusakan otak dan mengenali tingkat cedera dengan menilai reaksi atas tiga hal. Pertama, bukaan mata (mata tak membuka, membuka dengan pancingan "disakiti", membuka dengan pancingan ajakan bicara, atau membuka spontan). Kedua, tanggapan saat diajak bicara (tanpa tanggapan, ada bunyi yang tak dipahami, kata-kata tak jelas, bingung, mengenali). Ketiga, tanggapan pada rangsang gerak (tak ada gerakan, tanggapan tertentu terhadap "nyeri", mengikuti perintah). Tiap reaksi punya nilai, antara 13 - 15 untuk cedera otak ringan, 9 - 13 buat cedera otak sedang, serta 8 atau kurang untuk cedera otak berat.
Skala :
Mata

4 : membuka mata tanpa stimulasi dalam kondisi terjaga penuh.
3 : bisa membuka mata jika distimulasi ditepuk tepuk badannya
2 : bisa membuka mata hanya jika disakiti
1 : tidak bisa membuka mata no respon

Verbal

5 : bisa menjawab sesuai yang ditanyakan
4 : bisa menjawab dengan kalimat, tapi tidak jelas.
3 : bisa menjawab dengan kata, tapi tidak jelas.
2 : hanya bisa menjawab dengan erangan
1 : no respond
Motorik

6 : bisa bergerak sesuai yang diperintahkan
5 : bisa bergerak ketika distimulasi melokalisir menepis stimulasi yang menyakiti
4 : bisa bergerak ketika distimulasi sakit, tapi bersifat withdrawal menghindari sumber sakit.
3 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi tidak mampu menghindar, cuma menekuk sendi
2 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi cuma reflek gerak sederhana meluruskan sendi
1 : no respon

Glasgow mencoba mengkaitkan antara kesadaran seseorang dengan reflek fisik. Jika fisiknya tidak bisa merespon stimulasi dengan baik, maka secara bertahap kesadaran orang tersebut dianggap menurun, sampai pada suatu batas terendahnya yaitu koma alias mati suri.
Total nilai antara respon mata, verbal, dan motorik diberi angka 15. Jika seseorang memperoleh nilai akumulatif 15 berarti orang tersebut berada dalam kondisi 'sadar' alias 'terjaga' penuh. Jika di bawah angka 8, ia sudah dikategorikan sebagai koma.
Akan tetapi, orang yang memiliki angka tertinggi dalam skala Glasgow sebenarnya sekadar menggambarkan fungsi kesadaran dalam arti 'terjaga'. Dan itu, hanya sebagian saja dari fungsi kesadaran.
Sebab, nilai tersebut belum menggambarkan nilai-nilai luhur dari 'Kesadaran' seseorang.
Misalnya, apakah orang yang 'terjaga' itu sedang bahagia, ataukah kecewa. Ia sedang tentram ataukah merasa gelisah. Apakah ia sedang penuh rasa cinta ataukah penuh dendam. Ia bisa membuat keputusan dengan sikap bijaksana ataukah marah dan putus asa. Dan lain sebagainya.
Apa yang diukur Glasgow adalah sekadar nilai kuantitatif 'Kesadaran'. Sedangkan fungsi luhur adalah bersifat kualitatif. Pengukuran fungsi luhur seseorang biasanya diukur dengan metode psikotest.
Kesadaran yang bersifat kualitatif ini sangat berkait dengan fungsi akal seseorang. Kualitas kesadaran yang baik, menunjukkan fungsi akal yang juga baik.
Sedangkan kualitas kesadaran yang jelek, menggambarkan fungsi akal yang juga jelek.
Dengan kata lain, secara umum, fungsi kesadaran sangat berimpit dengan fungsi akal. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa keduanya adalah identik. Karena itu, kesadaran dan akal bisa menjadi parameter atas kualitas Jiwa seseorang.
Kualitas akal dan kesadaraan yang baik, menggambarkan fungsi jiwanya baik. Sebaliknya kualitas akal dan kesadaran yang jelek menggambarkan fungsi Jiwa yang jelek. Secara ekstrim dikatakan, jika akal dan kesadarannya rusak, maka Jiwanya pun rusak. Dan begitulah sebaliknya.
Maka, pada kesempatan ini kita memperoleh kesimpulan bahwa 'Akal' dan ‘Kesadaran’ adalah fungsi utama pada Jiwa seseorang. Seseorang dikatakan berJiwa sehat, jika akal dan kesadarannya berfungsi secara sehat. Dan Jiwa dikatakan tidak sehat jika akal dan kesadaran seseorang sedang tidak sehat.

SPORT MEDICINE

SPORT MEDICINE

Tujuan sport medicine : mencegah cedera atau masalah apapun yang terjadi akibat aktivitas olahraga dan menyediakan pengobatan yang tepat dan tepat.

WHAT TO DO :

1) menganalisa situasi, menentukan pasien dengan luka apakah ini

2) menyediakan pelayanan medis

3) tentukan apakah pengobatan yang kita berikan sudah cukup, apakah perlu observasi lebih lanjut atau perlu dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan terdekat

4) jika tidak boleh kembali ke aktivitasnya, apakah boleh pasien beraktivitas lagi sewaktu-waktu.

EPIDEMOLOGY TRIANGLE

(yang sakit) HOST

(penyebab sakit) AGENT ENVIRONMENT (fasilitas)

ü Semakin profesional tingkat pertandingannya, semakin sedikt cederanya.

Pre-participation examination adalah sebuah penemuan dalam dunia kedokteran dalam bidang sport medicine yakni cara untuk membuat lingkungan yang aman. Pre-participation examination ini berupa lembaran yang dibagikan sebelum suatu kegiatan olahraga (seperti pertandingan atau kejuaraan) dilaksanakan, untuk memastikan kesehatan peserta. Isinya meliputi biodata peserta, riwayat medis, dokter siapa yang merawat, obat-obat tertentu yang dikonsumsi, dan riwayat penyakit menurun.

Ada dua kasus dalam cedera, yaitu kasus traumatik (ada benturan) dan non-traumatilk (tidak ada benturan). Contoh dari kasus non-traumatik adalah exercise-induces asthma, cardiovascular disease, dermatologic disorder, blood-borne pathogens, allergic reaction, dan dyspepsia. Sementara contoh dari kasus traumatik adalah fractures, dislocation, soft tissue injuries, dan bleeding.

Exercice-induces asthma sering terjadi akibat kelelahan. Adapun untuk menentukan bahwa seseorang terserang asma dapat dilihat dari respiration rate yang meningkat yakni 16-24 kali/menit, denyut nadi meningkat, ekspirasi memanjang, wheezing, batuk berdahak, dan ada riwayat asma. Untuk prosedur penanganannya ada dua versi. Pertama, memberikan oksigen dengan segera. Kedua, tidak memberikan oksigen terlebih daluhu tetapi membuka jalan udara di bronkus dengan obat, karena pasien asma susah mengeluarkan oksigen bukan susah memasukkan oksigen, setelah itu barulah diberi oksigen.

Allergic reaction pada umumnya disebabkan oleh kontak dengan serangga, tumbuhan, binatang atau karena alergi terhadap makanan tertentu. Gejalanya meliputi gatal dan bengkak.

Dyspesia adalah sindrom dari perut bagian atas, salah satu bentuknya adalah maag. Umumnya disebabkan karena makan tidak teratur dan stres fisiologis. Adapun gejalanya meliputi nyeri epigastrik, mual dan sakit kepala

Fracture adalah discontinuitas jaringan tulang. Ada dua jenis fraktur, yaitu open fracture (patah tulang, terlihat luka dari luar) dan close fracture (patah tulang, luka didalam dan tidak terlihat dari luar). Penyebabnya meliputi direct trauma, indirect trauma, dan pathologic fracture (misalnya : osteoporosis). Fraktur dapat diketahui dengan look (bentuk tidak normal, disfungsi, memar, bengkak), feel (nyeri), dan move (abnormal mobolity, sakit, crepitation (merupakan tanda pasti), penurunan gerakan). Prosedur penanganannya yakni tidak menyakiti, ABC, mengembalikan tulang ke posisi semula, mengurangi gerakan tulang yang mengalami fraktur, dan rujuk ke rumah sakit.

Dislocation adalah keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi. Adapun prosedur penanganannya adalah dengan direposisi.

Soft tissue injuries atau cedera jaringan lunak meliputi sprains, strains, dan contusion. Sprains adalah nyeri pada ligamen atau sendi, strains adalah nyeri pada otot, dan contusion adalah pendarahan di bawah kulit. Penanganannya adalah dengan mnggunakan langkah RICE.

RICE treatment adalah recommended procedures untuk menangani cedera jaringan lunak yang meliputi rest, ice, compression, dan elevation. Rest, mengistirahatkan bagian yang cedera; Ice, ditempel dengan es yang dibungkus dengan kain; compression, ditekan dan dibalut dengan elastic bandage; dan elevation, menaikkan bagian yang cedera.

Bleeding atau pendarahan. Prosedur penanganannya yakni tekan di tempat pendarahan secara langsung dan konstan, evaluasi, dan beri obat pada luka.

Kegawatdaruratan

HEAT STROKE

Suatu keadaan dimana terjadi akibat serangan panas dan mengakibatkan sistem normal tubuh rusak. Heat stroke terjadi akibat:

· Temperatur tubuh meningkat ( 37,50 yang disebut hireksia, 39,5 hiperpireksia )

· Mekanisme dalam pandinginan suhu tubuh kacau

ü Kerja di tempat yang panas

ü Kekurangan minum

Heat Transfer

1. Konduksi ( melalui zat padat )

2. Konveksi ( melalui zat cair )

3. Radiasi ( pancaran )

4. Evaporasi ( dari bernapas, hidung , dan mulut )

Trias Heat stroke

1. Hiperpereksia ( 39.5 0 c )

2. Abnormalitas SSP ( Sistem Saraf Pusat )

3. Kulit yang panas dan kering

Kategori Heat Stroke

1. Heat Exhaustion ( tidak begitu berbahaya )

Gejala : keringat dingin, kulit dingin

2. Heat Stroke ( sangat berbahaya )

Heat Stroke Management

1. Moving early ( pindahkan secepatnya ke tempat yang sejuk )

2. Beri air yang cukup

3. Usahakan agar temperatur tubuh menurun

4. Lepaskan pakaiannya

5. Monitoring terus temperatur badan

6. Tidak boleh dikasi obat

7. Secepatnya rujuk ( maximal kurang dari 2 jam )

LUKA BAKAR ( COMBUSTIO )

Penyebabnya api, panas , arus listrik, cairan keras (kimia), dan kebekuan (kedinginan)

Mekanisme luka ledakan atau pun bunuh diri. Masalah yang mengancam adalah shock dan resusitasi telat.

Combustio sangat tergantung dari derajat dan luas,berdasarkan kedalamannya, sehingga dibagi menjadi 3 tipe:

1. Superficial : luka bakar yang hanya mengenai jaringan epidermis

2. Partial Thickness (second degree) : mengenai jaringan epidermis, dermis, dan Subcutan (ditandai dengan luka bakar yang melepuh, berisi kantong-kantong nanah)

3. Full Thickness (third degree) : mengenai semua jaringan hingga muscle (otot)

Manajemen Luka bakar

Ø Anamnesis ( Tanya pasien kenapa, bagaiman bias terjadi )

Ø Prosedur A (Airway) B (Breathing) C (Circulation) D (Disability) E (Exposure)

Ø Resusitasi Cair (Formula Baxter)

Ø Monitoring vital sign : Suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi nafas, tekanan darah, kesadaran, urine output (kencing sedikit berarti luka bakar) , dirujuk jika diperlukan

Fase early : 72 jam (shock)

Fase Intermediate : 2-4 minggu (inflamasi)

Fase Late : lebih dari 4 minggu (psikiatrik)

Catatan :

Formula Baxter

Dewasa : Ringer laktat 4 cc x berat badan x %luas luka bakar/hari

PRINSIP : ½ jumlah cairan diberikan pada 8 jam pertama, ½ lagi diberikan pada 16 jam berikutnya.

ü Luka bakar boleh dibersihkan dengan air mengalir (udah dimasak) atau menggunakan alkohol.

SHOCK ( circulatory )

Suatu syndrome klinik akibat kegagalan perfusi ( suplai darah yang kurang ) jaringan / mikrosirkulasi akan terjadi 2 hal :

1. Hipoksia ( kurang oksigen ), Anoksia ( tidak dapat oksogen sama sekali )

2. Gangguan fungsi sel

Tipe :

1. Cardiogenik

2. Hipovolemik : defisit volume sirkulasi, kurang cairan (berikan air)

3. Distributif : gangguan pembuluh darah

4. Hipoglikemik : kurang glukosa

5. Anafilaktik : alergi obat

Gejala – gejala :

1. Tekanan darah menurun tekanan systole kurang dari 90 mmHg

2. Nadi meningkat lebih besar 100 kali per menit

3. GCS menurun

4. Hipoperfusi perifer

5. RR meningkat lebih besar dari 30 kali per menit

6. Produksi urine berkurang / tidak ada

TRIAGE

Seleksi korban massal

Sistem yang digunakan START ( Simple Triage And Rapid Treatment ) diberikan pada korban disaster. Sifatnya sangat subyektif dari komandan ( dokternya ) Harus memahami ABCDE standar.

Recovery position agar pasien aman ( tidak ada sumbatan )

Seorang komandan sebaiknya bersiap menjadi pembunuh berdarah dingin

Arti warna pada pita :

  1. Hijau : ringan, bisa di tunda penanganannya(ditangani ketiga)
  2. Kuning : luka sedang, beri penanganan (ditangani kedua)
  3. Merah : Gawat darurat, perlu penanganan segera (yang ditangani pertama)
  4. Hitam : Mati, ditinggalkan saja

START SYSTEM

1. Delayed Victims

2. Pemeriksaan napas

Bernapas

TIDAK ADA

Buka jalan napas <3min <30min

Tidak Bernapas Ya MERAH Nilai sirkulasi

HITAM

3. Pemeriksaan sirkulasi

Sirkulasi

NO Nadi YES Nadi Status mental

-nilai dan kendalikan pendarahan

- tinggikan tungkai 20-40 cm

MERAH

4. Penilaian cedera kepala

Menilai status mental (Kesadaran) dengan memberikan perintah sederhana.

Jika tidak ada : MERAH

Jika ada : KUNING (Jika tidak bisa bangun) atau HIJAU

RESUSITASI JANTUNG PARU OTAK

RESUSITASI JANTUNG PARU OTAK (RJPO)

Resusitasi adalah semua tindakan darurat untuk menghentikan proses yang menuju kematian (penyelamatan jiwa). Beberapa tindakan penyelamatan jiwa ini adalah :

  1. Basic Life Support (BLS)
  2. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP)
  3. Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO)

Jika pasien berhenti bernapas lebih dari 4-6 menit akan menyebabkan suplai glukosa dan oksigen berkurang, dan jika tidak ada tindakan penyelamatan jiwa, napas pasien akan berhenti (meninggal). Oleh karena itu, tindakan ini sangat penting untuk dipelajari.

Penanganan Basic Life Support :

  1. Sadarkah?

Jika tidak sadar, segera bebaskan jalan napas pasien.

  1. Bernapaskah?
  2. Berdenyutkah?

Dalam resusitasi, seringkali kita menemui pasien gawat darurat. Pasien gawat darurat adalah pasien yang sangat perlu pertolongan cepat, tepat, dan cermat untuk mencegah kematian. Pasien yang termasuk pasien gawat darurat misalnya, pasien yang terluka karena tenggelam, stroke, obstruksi/benda asing, reaksi anafilaksi, ovedosis obat, inhalasi asap, dll.

Tindakan pertama dalam menerima pasien :

Pastikan korban sadar ataupun tidak ketika disapa.

  1. Pasien sadar : ajak bicara, jika suara jelas, itu berarti airway bebas.
  2. Pasien tidak sadar, maka nilai jalan napas dengan 3 langkah yakni :
    1. LOOK : lihat gerak napas pada dada/ perut
    2. LISTEN : dengankan suara napas
    3. FEEL : rasakan dan raba gerakan napas
  3. Tidak ada napas : berikan napas buatan 2 kali, jika ada berikan oksigen
  4. Ada napas : cari suara napas tambahan seperti snoring (pangkal lidah), gargling (cairan), crowing (edema larynx)

Jika korban tidak sadar, perlu diingat BEBASKAN JALAN NAPAS. Cek kesadaran, jika korban diam seperti mati, maka harus dirangsang bisa dengan cubitan atau pukulan, tetapi yang tidak menyebabkan luka.

>> Jika korban menjawab/bergerak, maka biarkan pasien tetap pada posisi ditemukan (kecuali ada bahaya pada posisi tersebut). Periksa keadaannya secara berkala dan teratur.

>> Jika tidak ada respon, berteriaklah mencari bantuan. Buka jalan napas dengan mendorong dahi (head tilt), mengangkat dagu (chin lift), atau jow thrust (gabungan kedua teknik tadi) dengan tujuan untuk menarik lidah.

Teknik yang sering digunakan dalam RJPO adalah ABCDEF. Tapi, poin yang terpenting adalah bagian ABC.

A = AIRWAY. Membuka jalan napas dengan 3 teknik yakni head tilt, chin lift, atau jow thrust

B = BREATHING. Posisi recovery dianjurkan untuk membebaskan jalan napas, menghilangkan sumbatan, jika perlu diberikan napas buatan, sehingga pasien kembali bernapas

C = CIRCULATION. Jika pasien tidak bernapas, segera cari denyut nada pasien dengan meraba pembuluh dara radialis / karotis. Jika masih ada, segera lancarkan sirkulasi darah pasien dan bebaskan jalan napas dengan memberikan kompresi 30 kali, kemudian napas buatan 2 kali hingga pasien sadar kembali. Jika tidak ada, tidak perlu melanjutkan tidakan penyelamatan karena itu berarti pasien sudah meninggal.

D = DRUGS AND FLUID TREATMENT

E = ELECTROCARDIOGRAPHY

F = FIBRILLATION TREATMENT

Pada tahap DEF merupakan tahan kedua dalam menerima pasien (bantuan hidup lanjut dengan tujuan memulihkan dan mempertahankan sirkulasi spontan)

>> Teknik Kompresi pada tahap Circulation

Semakin sering dilakukan kompresi, semakin banyak darah yang didistribusikan keluar. Untuk mencari titik tumpu dalam kompresi adalah dengan meletakkan 3 jari dari prosesus sipodeus (taju pedang), tekan dada agak di sebelah kiri dengan menggunakan kedua tangan, tetapi hanya bertumpu dengan satu tangan (disarankan tumit tangan kanan agar lebih kuat kompresinya). Posisi tangan tidak boleh menekuk.

>> Teknik Pemberian Napas Buatan pada tahap Breathing dan Circulation

Buka sedikit mulut pasien, ambil napas panjang dan tempelkan rapat-rapat bibir penolong melingkari mulut pasien. Usahakan untuk meminimalisasi kontak langsung dengan pasien ketika memberikan napas buatan ini agar tidak tertular penyakit. Kemudian, periksa tanda-tanda sirkulasi meskipun napas buatan belum berhasil (selama 10 detik). Cari apakah ada gerakan yang menandakan pasien bernapas seperti gerakan menelan. Kemudian raba nadi carotis pasien. Lakukan tahapan tersebut berulang kali sampai pasien kembali bernapas.

HIDUP OPTIMIS DENGAN DIABETES MELITUS

HIDUP OPTIMIS DENGAN DIABETES MELITUS

Indira Dharmasamitha

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Dewasa ini, diabetes telah menyerang sekitar 246 juta orang diseluruh dunia atau sekitar 6% dari populasi dewasa. Di Indonesia sendiri diperkirakan pada tahun 2025 angka insiden penyakit ini naik hingga 12,4 juta orang dari yang sebelumnya 4,5 juta orang (1995). Sungguh penyakit yang sangat serius.

Sebelum mengenal apa itu diabetes, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana tubuh kita mengelola gula. Gula dalam darah atau yang disebut glukosa merupakan salah satu sumber energi bagi tubuh kita. Glukosa didapatkan dari 2 sumber, yakni makanan dan yang diproduksi oleh hati. Ketika makanan masuk kedalam tubuh, gula dari makanan dicerna dalam usus kemudian diserap ke dalam aliran darah. Dengan bantuan ”teman” yang disebut hormon insulin. Glukosa ini akan dihantar ke sel tubuh dan jaringan sebagai sumber energi. Sehingga saat kita makan, kadar glukosa darah tetap seimbang berkat jasa hormon insulin yang dihasilkan oleh sel beta di pulau Langerhans pada pankreas.

Organ lain yang penting dalam pengolahan dan penyimpanan glukosa adalah hati. Ketika kita makan, kadar insulin dalam tubuh akan meningkat dan hati akan menyimpan kelebihan glukosa dalam bentuk glikogen. Sedangkan pada saat kita lapar atau tidak makan, timbunan gula dalam hati (glikogen) akan diubah menjadi glukosa kembali dan diedarkan ke sel-sel tubuh melalui aliran darah agar kita tetap bisa beraktifitas.

Pada penderita diabetes, terjadi gangguan dalam transportasi glukosa ke dalam sel, glukosa yang disimpan di hati, dan glukosa yang keluar dari hati. Inilah yang menyebabkan glukosa dalam darah naik yang kemudian keluar melalu urine sehingga penyakit ini disebut juga kencing manis. Penyebabnya ada 2, yang pertama adalah pankreas tidak mampu lagi memproduksi insulin atau sel tubuh kita tidak merespon kerja insulin sehingga glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel tubuh.


Sebelumnya, mari kita mengenal terlebih dulu macam-macam diabetes:

  1. Diabetes tipe 1

Diabetes jenis ini mutlak memerlukan suntikan insulin karena pankreas sebagai pabrik insulin sudah tidak mampu memproduksi insulin lagi. Biasanya dijumpai pada usia yang masih muda.

  1. Diabetes tipe 2

Diabetes ini paling sering dijumpai. Pankreas masih bisa memproduksi insulin akan tetapi kualitasnya tidak baik atau bisa karena sel tubuh tidak lagi peka atau resisten terhadap insulin. Keadaan ini umumnya terjadi pada orang yang gemuk atau obesitas. Pada tahap pertama, biasanya diberikan obat anti diabetes (OAD) dan edukasi untuk mengubah gaya hidup. Jika sudah terjadi komplikasi diperlukan terapi insulin untuk penanganannya.

  1. Diabetes Kehamilan

Diabetes ini terjadi sekitar 2-5 persen kehamilan. Terjadi karena pembentukan beberapa hormon saat ibu hamil yang kemudian menyebabkan sel tubuh tidak peka (resisten) terhadap kerja insulin sehingga glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel tubuh.

  1. Diabetes yang lain

Diabetes ini terjadi akibat dari penyakit lain yang mengganggu produksi insulin. Penyebab diabetes macam ini misalnya malnutrisi, radang pankreas, gangguan kelenjar adrenal/hipofisis, penggunaan hormon kortikostereoid, dll.

Menurut kriteria Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), diagnosis diabetes dapat ditegakan jika kadar glukosa darah puasa sudah di atas 126 mg/dl dan glukosa darah 2 jam setelah makan di atas 200 mg/dl. Selain itu terdapat pula gejala klinis klasik yang muncul seperti banyak makan, sering buang air kecil, cepat haus, berat badan turun, dan lemas.

Jika anda sudah terdiagnosis penyakit ini, tentunya anda akan mengalami beberapa perubahan dalam hidup anda. Disamping pengobatan dengan obat oral anti diabetes maupun terapi insulin, perubahan gaya hidup seperti menjaga makanan anda dan hidup lebih aktif adalah yang paling utama. Pada dasarnya, anda akan mengatur 3 bahan dasar makanan, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak, meramunya menjadi makanan yang menarik dan tentunya tidak meracuni tubuh anda. Sedikit mengkonsumsi makanan karbohidrat dan lemak, perbanyak makan sayur dan buah. Jika terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat, akan meningkatkan kadar trigliserida dan glukosa darah tidak terkontrol baik. Untuk penderita diabetes, disarankan makan makanan yang memiliki Glycemic Index(GI) rendah. GI adalah ukuran kecepatan tubuh menyerap suatu karbohidrat dari makanan. Contoh makanan yang ber-GI rendah: roti gandum, cereal dari gandum, biskuit gandum, buah yang dikupas tipis, cake atau muffin dari buah, kentang segar, apel, plum, jus buah dengan ampasnya, buncis, biji-bijian, dan beras basmati. Mengkonsumsi makan yang mengandung protein berlebihan juga tidak baik. Pilihlah makanan yang mengandung protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kulit, keju rendah lemak, daging yang kurus, atau protein nabati. Sumber protein nabati antara lain tahu, tempe, kacang polong, buncis, arcis, serta kedelai. Hindari makanan yang digoreng, jika iya gunakanlah minyak nabati untuk menggorengnya. Pilihlah makanan/cemilan yang fat-free atau low fat. Gunakan bumbu masak dari tumbuhan sebagai penyedap makanan. Selain itu, olahraga mutlak dilakukan oleh penyandang diabetes dimana akan membantu anda dalam mengontrol glukosa darah. Olahraga yang cocok untuk penderita diabetes adalah olahraga yang tidak terlalu berbahaya seperti aerobik. Olahraga ini tidak membebani jantung dan paru, bahkan melatih napas paru-paru dan denyut jantung. Yang termasuk olahraga aerobik adalah jalan kaki, jogging, bersepeda, dansa aerobik, senam, renang, dan peregangan otot. Lama olahraga tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit sehari selama 5-7 hari dalam seminggu. Mulailah dengan 10 menit per hari, kemudian tiap minggu ditingkatkan 5 menit sampai akhirnya mencapai 30 menit.


Seorang penderita diabetes sebisa mungkin menghindari cedera karena sedikit cedera dapat berakibat buruk bahkan fatal. Oleh karena itu keamanan dalam melakukan aktivitas fisik atau berolahraga harus diperhatikan seperti memakai tanda pengenal sehingga pertolongan cepat dapat dilaksanakn jika orang lain mengetahui anda penderita diabetes. Pilihlah pakaian dan sepatu yang benar dan nyaman untuk berolahraga. Rutinlah memeriksa kaki anda jika ada tergores atau iritasi harus segera diobati atau dibalut agar tidak parah. Minum banyak air untuk mengganti cairan tubuh yang keluar saat beraktivitas juga harus diperhatikan karena dehidrasi akan berdampak sangat buruk bagi penderita diabetes. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan sebelum anda berolahraga. Jika anda merasakan pusing atau terasa mau pingsan, rasa sakit pada ulu hati, dada terasa sesak, napas pendek, nyeri dada, dan jantung berdebar segera hentikan olahraga anda dan segera minta bantuan tenaga medis terdekat untuk menghindari syok hipoglikemik (kondisi tubuh kekurangan asupan gula).

Yang tidak kalah pentingnya bagi penderita diabetes adalah kontrol glukosa darah (self monitoring). Bisa dilakukan dengan membeli alatnya sendiri (glucometer) yang sudah beredar dipasaran atau langsung mengunjungi dokter anda. Kontrol glukosa darah sangat penting dalam pengobatan dan pencegahan komplikasi. Kapan dan seberapa sering tergantung pada tipe diabetes dan rencana pengobatan dokter anda. Bagi pasien muda sasaran glukosa darah puasa adala 80-120 mg/dl dan glukosa darah 2 jam sesudah makan tidak lebih dari 180 mg/dl. Sedangkan pasien yang lebih tua glukosa darah puasa 100-140 mg/dl dan 2 jam sesudah makan dibawah 200 mg/dl.

Yang menjadi masalah bagi penderita diabetes bukanlah bagaiamana ia sampai terkena diabetes atau tipe diabetes apa yang ia derita. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa mengubah gaya hidup menjadi lebih optimis, sehat, dan lebih aktif.

Oleh karena itu, jika sekarang anda sadar gaya hidup anda tidak sehat dan mengundang berbagai penyakit, rubahlah dari sekarang. Karena tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah perubahan.